Sabtu, 23 Oktober 2010

Softskil-Teknologi Cinema


Cinema Technology-Animation-Walt Disney

Artikel sebelumnya menceritakan bagaimana perkembangan digital cinema dewasa ini. Saat ini akan dibahas bagaimana dengan perkembangan bioskop yang harusnya juga mengikuti perkembangan dunia perfilman. Siapa yang tidak menyukai menonton film di bioskop yang di lengkapi dengan layar yang besar dengan sound yang baik? Semuanya menyukainya apalagi bioskop yang sudah dilengkapi dengan 3D makin membuat hidup setiap hal yang kita lihat pada layar tersebut. Seiring dengan perkembangan teknologi perfilman, maka teknologi bioskop pun harus semakin baik sehingga bioskop tidak tertinggalan dan akhirnya pun ditinggalkan oleh banyak orang. Biasanya yang dilakukan adalah menambahkan efek khusus yang membuat film lebih dramatis dan terlihat nyata. Tata warna dan cahayanya pun bisa di sesuaikan dengan si pembuatnya. Kalau kita selidiki perkembangan bioskop maka sosok seorang Robert Paul jangan sampai kita lupakan. 
Pada tahun 1895, Robert Paul mendemonstrasikan teknologi proyektor film di London. Alat itu membuat serangkaian gambar statis (still photo) yang disorot ke layar, yang serta-merta menjadi gambar hidup. Auguste dan Louis Lumiere juga mengambil bagian dalam hal ini. Mereka menciptakan alat cinema-tographe, yang merupakan modifikasi kinetoscope milik Thomas Alva Edison. Fungsi kinetoscope adalah melihat gambar bergerak dengan cara mengintip dari satu lubang. Lumiere membuatnya mampu memproyeksikan gambar bergerak sehingga bisa disaksikan lebih dari satu orang. Itulah salah satu dari sekian perkembangan bioskop yang sampai saat ini kita rasakan terutama di Indonesia. 

Dewasa ini, sudah semakin banyak perkembangan bioskop yang berkembang pesat, kita tengok bioskop Blitzmegaplex yang menjadi bioskop 3D yang pertama dengan menggunakan RealD pada bulan Juni 2009 lalu. Bioskop 21 (Cineplex 21 Group) tidak mau ketinggalan. Bioskop ini menjadi jaringan cineplex di Indonesia. Jaringan bioskop ini tersebar di beberapa kota besar di seluruh Indonesia yang didukung oleh teknologi tata suara Dolby Digital dan THX. Cinema 21 membuat 3 merek atau tempat bioskop yaitu Cinema 21, Cinema XXI, dan The Premiere. Cinema XXI hadir pertama kali di Plaza Indonesia Entertainment X'nter. Perbedaannya dengan Cinema 21 adalah terletak dari fasilitas yang disediakan seperti penggunaan sofa empuk di keseluruhan studionya, dan memiliki sertifikat THX untuk semua studionya. Karena perkembangan perfilman yang menggunakan 3D, maka beberapa Cinema XXI sudah mengaplikasikan teknologi Dobly Digital Cinema 3D. Adapula Premiere yang ditujukan bagi mereka yang bukan hanya menonton dengan fasilitas biasa tetapi dengan fasilitas mewah seperti adanya lobby khusus, kursi khusus seperti kelas bisnis di dalam pesawat, penyediaan selimut dan hal yang lainnya. The Premiere saat ini hadir di Supermal Karawachi, Senayan City, Pondok Indah, Emporium Pluit, Puri dan Gading. Itulah salah satu perkembangan teknologi bioskop yang mengikuti perkembangan perfilman saat ini.

Bioskop dulu menggunakan rol film. Rol Film adalah master copy dari film yang tengah beredar. Jika kalian pernah menonton film “Janji Joni” maka film tersebut menggambarkan secara jelas bagaimana ada seseorang yang mengerjakan bagian tertentu dalam pemutaran film di bioskop yaitu pengantar roll film. Maka dari ini perbedaan penayangan antara satu bioskop dengan bioskop lain tidak pernah sama jam penayanganya, paling tidak perbedaannya adalah setengah jam atau satu jam. Kita juga sering menggunakan VCD dan DVD untuk menonton film dengan menggunakan media televisi ataupun computer. VCD dan DVD menggunakan format MPEG-2 sedangkan pada bioskop format yang digunakan adalah CINEON dan DPX ( Digital Picture eXchange. Bila MPEG-2 mengkompresi frame demi frame menjadi pixel. 

 CINEON/DPX ini tidak mengkompresnya sama sekali. VCD menghabiskan ruang sebesar 700 MB, DVD menghabiskan ruang sebesar 4 GB. CINEON/DPX menghabiskan sekitar 1 Terabit (TB), untuk satu film saja. Perbandingannya, 1 TB = 1.024 GB = 1.048.576 MB. Perbandingan yang lebih sederhananya, 2 buah CD dapat menyimpan 1 judul filem dengan resolusi rendah, 1 buah DVD dapat menyimpan 3 judul filem dengan resolusi tinggi, dan 1 buah media dengan format CINEON/DPX dapat menyimpan lebih dari 200 judul filem setara dengan kualitas DVD. Jadi, untuk menyediakan satu judul film dengan format CINEON/DPX, tidak mungkin menggunakan media CD atau DVD lagi. Satu media yang mungkin adalah Harddisk dengan kapasitas sebesar itu. Itulah gambaran perkembangan yang ada dibalik pemutaran film di bioskop


Saat ini akan dibahas salah satu pemakaian digital atau teknologi di dunia perfilman. Jika saya mengatakan Walt Disney maka anda akan membayangkan cerita animasi-animasi yang menggunakan kualitas gambar yang baik dan cerita unik seperti cerita dari kerajaan yang dilatarbelakangi dengan banyak gambar pegunungan, kebun bunga dan hal-hal lainnya. Mickey Mouse, Minnie Mouse, Donald Duck, Snow White juga kita kenal dari film yang menggunakan animasi ini sebagai hal yang utama dalam proses perfilman mereka. Merekalah yang menjadi perkembangan animasi terpenting dari America Serikat. Yang mana dibuat dari tahun 1928 sampai tahun 1940 melalui film Silly Simphony dan pada tahun 1931 film animasi yang telah dilengkapi dengan warna yang indah adalah film “flowes and trees”. Kartun panjang pertama kali pun adalah “Snow white and seven dwarfs” pada tahun 1938.


Pemakaian software dalam animasi terkhususnya Walt Disney akan dijelaskan pada bagian ini. Software yang digunakan adalah  
1.        CGI adalah aplikasi bidang komputer grafis (CG) atau, lebih khusus, komputer grafis 3D untuk efek khusus dalam film. CGI digunakan untuk efek visual karena komputer efek yang dihasilkan lebih terkendali daripada proses lebih berbasis fisik lainnya, seperti membangun miniatur untuk efek gambar melakukan penambahan untuk adegan keramaian, dan memungkinkan pula penciptaan gambar yang tidak layak menggunakan dengan teknologi. Ketersediaan perangkat lunak terbaru CGI dan meningkatnya kecepatan komputer telah memungkinkan seniman individu dan perusahaan kecil untuk memproduksi film-film kelas profesional,dll
2.       WDAS’s texture mapping system, Ptex, yang telah tersedia sejak 15 Januari 2010. Ptex dikembangkan oleh WDAS principal software engineer Brent Burley untuk penggunaan dalam produksi-kualitas rendering, dan diarahkan untuk dapat diadopsi secara luas. Software ini dapat mengeliminasi  kebutuhan kebutuhan akan tugas pekerja intensive UV dan membosankan dengan menerapkan tekstur yang terpisah bagi tiap face subdivisi atau polygon mesh. format file Ptex secara efisien dapat menyimpan ratusan dari ribuan texture image pada single file, menghasilkan pengurangan yang signifikan pada load server. Ptex API, yang oleh WDAS dirilis sebagai open source, menyediakan cache file I/O dan filtering kualitas tinggi - semua yang dibutuhkan untuk memudahkan menambah support Ptex support untuk produksi renderer berkualitas atau texture authoring application.
Dengan peningkatan dalam kebutuhan kompleksitas render dalam film animasi, tim WDAS menemukan bahwa standar metode mapping texture yang telah digunakan menjadi tidak efisien dan mempersulit artis/animator dalam mempergunakannya yang mana sebagai upaya meningkatkan efisiensi dan kualitas texture mapping pada geomoetry yang kompels dan ruwet.
Software pendukung lainnya kurang lebih ada
1.        3D Studio Max 7.0
3D Studio Max merupakan software grafik yang memadukan antara Graphic Vector dengan Raster Image, untuk menghasilkan hasil rancangan Virtual Reality atau mendekati keadaan yang sebenarnya. 
1.        Adobe After Effects 7.0
Adobe After Effects 7.0 digunakan untuk membuat berbagai efek pada sebuah animasi.
2.      Adobe Premiere Pro 2.0
Adobe Premiere Pro 2.0 adalah seri terbaru dari Adobe Premiere. Adobe Premiere Pro 2.0 merupakan program yang sangat popular dalam dunia editing film. Dibuat oleh perusahaan software yang terkenal, yaitu Adobe. Adobe Premiere Pro 2.0 dibuat untuk melakukan editing film dan juga untuk membuat animasi video digital.
3.      Adobe Photoshop 9.0
Software Editing Image yang sangat popular. Dibuat dengan fitur lengkap sehingga menghasilkan karya Image yang lebih handal dan menakjubkan

Saya sendiri pun sebagai pemirsa atau penonton yang menikmati perfilman yang ada terkhusus film animasi sangat menikmati hasil dari apa yang telah dilakukan. Memang pengeluaran film animasi ini dilakukan jauh lebih lama daripada perfilman yang tidak menggunakan animasi. Hal ini dikarenakan begitu rumit dan proses yang panjang yang harus dilalui untuk hasil yang luar biasa. Oleh karena itu tidak sedikit orang yang sangat menyukai film animasi terlebih dari Walt Disney yang mana ditonton bukan hanya oleh anak kecil tetapi oleh orang dewasa atau pun orang tua. Efek gambar, pergerakannya, efek suara yang dihasilkan serta perwarnaan yang pas memiliki tempat tersendiri di hati saya sebagai pengagum film animasi Walf Disney ini sejak kecil.


Sumber :                                

Sumber gambar : www.google.com

Minggu, 17 Oktober 2010

SOFTSKILL-[RESUME] DIGITAL CINEMA


 DIGITAL CINEMA


George Lucas mengatakan bahwa film merupakan perkembangan fotografi baik melalui media yang menggunakan strip seluloid yang mana berfungsi untuk menangkap dan merekam gambar pada abad kesembilan belas. Dalam 20 tahun  terakhir, teknologi digital, teknik dan estetika visual memiliki pengaruh yang besar pada setiap tahap pembuatan film dan proses pendistribusiannya. Digital cinema sendiri adalah semua konsep, sebuah system yang lengkap dimana meliputi seluruh rantai produksi film dari akuisis yang berhubungan dengan kamera digital dan pada bagian ini akan di jelaskan secara singkat bagaimana kerja dasar teknologi dan pemetaan berbagai praktik dan dampak akibat dari munculnya system digital.

Digital produksi dan pasca produksi
Proses pembuatan film yang sebenarnya adalah dari produksi film yang melakukan secara tradisional yang menggunakan 35mm atau 70mm film kamera yang dilengkapi tabung-tabung seluloid. Kualitas gambar yang dihasilkan oleh kamera digital dirasakan secara signifikan hanya saja lebih rendah dari film yang biasa jadi sementara rekaman film dimanipulasi dengan menggunakan computer pada pasca produksi, proses produksi sendiri tetap menggunakan basis seluloid. Dalam teorinya, digital film dimulai pada akhir tahun 1980an, ketika Sony mengadakan pemasaran konsep sinemtografi elektronika. Pada akhir tahun 1990an diperkenalkan HDCAM dan penggantiannya dari proses sinemtografi digital untuk membuat film menggunakan kamera digital. Ketika tahun 2001-2002 Geogre Lukas menggunakan Sony HDW-F900 HDCAM dalam episode Star Wars yang dilengkapi lensa Panavision camcorder high-end. High-end kamera menggunakan sensor tunggal yang merupakan ukuran yang sama seperti film 35mm frame seperti kamera film konvensional. Pengambilan gambar dalam format HDTV progresif memberikan gambar 720 1080 pixel dan hasilnya adalah filmis daripada televisual saat gambar di tangkap/direkam.

Pertengahan tahun 1990an Sony juga mengeluarkan DCR VX1000 Mini DV kamera format yang menjanjikan kualitas gambar yang lebih baik hanya masih belum sebaik pengambilan film tradisional.Kamera High-end menggunakan kompresi tetapi tidak mengurangi ukuran file sedangkan system MidiDV menggunakan tingkat kompresi yang tinggi dan mengurangi kualitas gambar untuk kepentingan penyimpanan ukuran. Ada pula penambahan video kompleks yang mana membantu sinematografi  untuk melihat apa yang direkam dan membuat luas penyesuaian yang diperlukan.

Peningkatan penggunaan teknologi digital dan proses yang ada dalam produksi film mempengaruhi logistic produksi film yang memungkinkan nyata lokasi yng sebagian atau  sepenuhnya digantikan dengan digital yang dibuat. Misalnya menambahkan adegan digital sebagai sesuatu yang nyata dalam film tersebut seperti pemandangan yang luas ataupun ditambahkan ruang 3D yang nyata.

Kosekuensi dari meningkatnya penggunaan teknik komputer ini adalah pencitraan dalam pembuatan film dimana keseimbangan antara produksi ( film dari adegan yang adalah narasi dari film )  dan pasca produksi ( termasuk dalam membersihkan foto, penambahan analog efek digital dalam gambar-gambar awal yang dimasukan). Dalam pembuatan film kontemporer pun, periode pasca produksi umumnya jauh lebih lama dari masa produksi karena sebagian besar gambar dari hasil akhir adalah hasil kerja dilakukan dalam pencitraan dari hasil komputer. Film yang ada direkam sebagai film data pada hard disk dan memori flash dengan menggunakan sistem RAID ( Redundant Array of Inexpensive / Drives independen / disk ). Berbagai hal dapat dicoba dengan lebih cepat dan mudah tanpa pembatasan fisik yang ada.

Dari sejarahnya, CGI memiliki kualitas gambar yang kasar, Kualitas CGIS yang muncul jauh berbeda dengan visual dari objek yang secara dunia nyata telah di foto dengan menggunakan seluloid ( tradisional ). Ada beberapa konsekuensi kualitas visual yang berbeda ini. Salah satunya adalah gambar yang dihasilkan dengan menggunakan CGI ini biasanya muncul pada layar untuk jangka waktu yang lebih pendek dari gambar nyata.


Penggunaan teknologi semakin menarik dalam perfilman yang menggunakan digital yang mana pelayanannya memungkinkan bioskop nasional untuk memproduksi film-film khusus untuk budaya mereka dengan cara yang lebih membatasi struktur dan ekonomi tradisional. Dan distribusi digital, baik dalam format DVD atau di bioskop dengan proyeksi memungkinkan pameran distribusi mudah dan murah untuk mendapatkan film keluar cepat untuk menonton secara lokal dan maksimal. Produksi film menggunakan teknologi digital tidak dilihat hanya sebagai inisiatif saja.

DVD merilis ribuan eksempar, sementara masih berjuang untuk melengkapi jaringan bioskop digital. Pada bulan September 2005, Afrika Selatan menciptakan 20 bioskop digital untuk menunjukan produk asli bersama dengan fitur-fitur yang melengkapinya. Seperti yang dinyatakan distribusi digital di dalam dunia perfilman ada dengan format DVD, ada pula dengan hard driver deliverable atau melalui satelit. Sebagai tindakan pengamanan yang dilakukan dengan jelas maka, data yang terdapat pada salah satu platform ini pengiriman akan dienkripsi untuk mencegah pembajakan. Saat ini, bioskop individu mengatur pemutaran mereka sendiri melalui salah satu metode ini, tapi akhirnya direncanakan bahwa bioskop akan melakukan jaringan digital yang memungkinkan sebuah server mainframe pusat untuk secara bersamaan menyediakan fitur film untuk sejumlah layar bioskop.

Perbedaan dan kontinuitas adalah bioskop sebagai bentuk hiburan yang sebagian karena menarik dengan teknik baru yang ditawaran untuk para praktisi dan para skala ekonomi yang memungkinkan salinan digital film dijangkau penonton jauh lebih murah dan menjamin kelangsungan kesenangan publik untuk masa mendatang. 

Sumber : Digital Cultures Understanding
Sumber gambar ; google 

Sabtu, 16 Oktober 2010

Softskill-[TV Streaming Internet Broad Casting-Liputan 6 SCTV

Internet Broad Casting-Liputan 6 SCTV

TV Online atau yang kita sebut sebagai TV Streaming atau banyak lagi sebutan yang lainnya. Sebutan ini sering kita gunakan untuk menyatakan bahwa kita seang menonton televisi di dunia maya. Streaming itu sebenarnya berarti pengaliran ataupun mengalirkan. Di dunia internet streaming mengacu pada teknologi yang mampu mengkompresi ukuran file baik itu audi atai video yang berukuran besar menjadi sedemikian rupa sehingga dapat di alirkan atau di transfer melalui jaringan Internet. Semua jenis file yang dapat distreming baik itu audio, video, image, text, data 3D da yang lainnya. Tapi yang sering kita temui adalah yang berhubungan dengan audio dan juga video dimana agar dapat dinikamti sesegera mungkin oleh kita dan sesuai dengan keinginan kita yang mana dapat di tampilakan dari awal hingga akhir tanpa adanya hambatan (putus-putus).

SCTV adalah salah satu televisi swasta di Indonesia yang kepanjangaannya adalah Surya Citra Televisi Indonesia. Stasiun swasta ini pertama kali mengudara pada tanggal 24 Agustus 1990 dengan nama Surabaya Central Televisi Indonesia. Stasiun televisi yang berkantor pusat di di SCTV Tower, Senayan City, Jalan Asia Afrika Lot 19, Jakarta Pusat ini memiliki banyak program televisi. Salah satunya adalah Liputan 6 sebagai program yang menyajikan program berita aktual.
Para penggemar Liputan 6, SCTV saat ini tidak perlu takut apabila program televisi ini terlewatkan karena penggembar televisi ini dapat menontonnya men ggunakan TV Online yang di dapat dengan cara mengakses internet maka program yang terlewatkan tersebut dapat di ditonton kembali.
SCTV menggunakan yang namanya Internet Broardcasting yang mana teknologi ini adalah teknologi streaming yang memungkinkan stasiun televisi ataupun radio melakukan siarannya secara khusus layanan on-demand atau yang kita mengerti adalah menyiarkan sesuatu yang telah di rekam sebelumnya. Layanan yang lainnya ada pula live tetapi  stasiun televisi Indonesia belum ada yang melakukan livecasting, kecuali acara tertentu dan insidentil dikarenakan memerlukan jaringan Internet dengan bandwidth dan kecepatan yang memadai pula. Internet Broadcasting yang dibilang sebagai media online ini pun menyebutkan kelebihan pemakaiannya dibandingkan dengan menggunakan media lain dalam penyebarann beritanya. Kelebihannya adalah sangat cepat dari segi waktu media online dalam menyampaikan beritanya. Audio visual yang mana audi visual tersebut menggunakan streaming dan dapat di akses kapan saja dan dimana saha. Sedangkan kekurangannya adalah terkadang tidak selalu tepat karena mengutamakan kecepatan berita yang dimuat secara online dan juga tidak terjangkau luas karena belum semua lapisan masyarkat bisa menikmati layanan media online lewat internet broadcasting.

Dari segi hardware atau perangkat yang diperlukan untuk aplikasi ini adalah seperti: terrestrial yang menggunakan gelombang UHF dan VHF, kabel dan satelit dengan gelombang mikro yang mana memiliki prinsip  adalah melewatkan paket-paket data pada sinyal video komposit.
Sinyal Video Komposit adalah format sinyal yang dikirimkan melalui kanal televisi pada sistem televisi analog dengan sistem Phase Alternating Line (PAL) yaitu sistem televisi yang digunakan di Indonesia dan banyak negara di Asia dan Eropa. Sinyal ini akan dibangkitkan kemudian dikombinasikan dengan sinyal suara dan dimodulasikan dengan RF carrier. Sinyal video komposit terdiri dari komponen-komponen sinyal, yaitu sinyal informasi dan sinyal sinkronisasi
Sinyal informasi berupa sinyal data atau gambar. Sinyal ini akan dikonversi menjadi format digital yang bernilai biner (bit 0 dan 1).informasi citra dalam sinyal video komposit terdiri dari informasi intensitas atau hitam-putih yang dilambangkan dengan sinyal Y dan informasi warna yang dilambangkan dengan sunyal U dan V

Terdapat sinyal sinkronisasi yang ada dua jenis, yaitu: sinkronisasi horisontal (line synch) dan sinkronisasi vertikal (field synch). Sinkronisasi horisontal terdapat pada setiap akhir baris, sedangkan sinkronisasi vertikal terdapat pada setiap akhir dari field. Sebuah frame atau gambar yang tampak dalam layar televisi ditampilkan dalam 2 kali field, yaitu field baris ganjil dan field baris genap. Kedua field tersebut ditampilkan secara bergantian dan perubahan setiap fieldnya diperlukan sinkronisasi vertikal. Untuk membangkitkan sinyal ini; diperlukan mikrokontroler yang terhubung ke bagian interface televisi. Mikrokontroler yang digunakan harus memiliki spesifikasi yang mampu beroperasi pada kecepatan tinggi, agar dapat dihasilkan tampilan beresolusi cukup tinggi. Setelah dibangkitkan sinyal video komposit, maka kita perlu memperhatikan penyiaran internet dengan saluran TV yang digunakan seperti pada contoh saat ini adalah SCTV yamg mana dalam hal ini SCTV memakai layanan on-demand

Jika kita ingin mengakses atau menonton SCTV TV Online ada salah satu cara dengan menggunakan Real Player atau FLV Player di computer yang kita miliki kemudian kita dapat membuka url rtsp://202.58.181.185/broadcast/sctv dengan begithu kita dapat menonton sctv atau jika kita ingin mengakses langsung liputan 6 kita dapat langsung ke www.liputan6.com.


Sumber gambar ; Google